Harapan Baru Pasien Gagal Ginjal Lewat CAPD, Cuci Darah Tak Perlu ke RS

Harapan Baru Pasien Gagal Ginjal Lewat CAPD, Cuci Darah Tak Perlu ke RS
  • Detik - Kesehatan
  • 0 Views
Foto: Getty Images/saengsuriya13 Jakarta - Selama lebih dari satu dekade, hidup Rudi (bukan nama sebenarnya) seolah terpaku pada jarum jam rumah sakit. Sebagai tulang punggung keluarga, ia harus merelakan dua hari dalam sepekan untuk mengantre, menghadapi tusukan jarum, dan meninggalkan pekerjaannya demi menjalani hemodialisis (HD) atau cuci darah konvensional.Baginya saat itu, rutinitas yang melelahkan ini adalah satu-satunya napas yang tersisa untuk bertahan hidup. Ia tidak pernah menyangka bahwa di luar ruang perawatan itu, ada pilihan lain yang jauh lebih manusiawi bagi kemandiriannya.Penyesalan Rudi baru muncul ketika ia bergabung dengan komunitas pasien. Di sanalah ia pertama kali mendengar tentang CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis), sebuah metode dialisis mandiri melalui rongga perut yang bisa dilakukan di rumah. Kesadaran itu datang terlambat, memicu pertanyaan getir yang sering menghantui para pasien gagal ginjal di Indonesia: mengapa informasi sepenting ini tidak sampai ke telinga mereka sejak awal? Dominasi Hemodialisis dan Minimnya EdukasiKisah Rudi hanyalah satu dari ribuan potret serupa di tanah air. Ketua Umum Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI), Tony Richard Samosir dalam keterangannya menyoroti bahwa hingga kini, hampir 98 persen pasien gagal ginjal di Indonesia langsung diarahkan ke metode hemodialisis. Sayangnya, opsi terapi lain seperti CAPD atau transplantasi ginjal sering kali tidak dipaparkan secara utuh."Di Indonesia hampir 98% pasien gagal ginjal langsung masuk ke hemodialisis, sementara pilihan terapi lain seperti CAPD atau transplantasi sering tidak dijelaskan secara utuh kepada pasien. Bagi kami di KPCDI, ini bukan sekadar soal metode terapi, tetapi soal hak pasien untuk mendapatkan informasi yang lengkap dan menentukan pilihan terapinya sendiri," ujar Tony.
Kategori: Hemodialisa